Masalah yang sering terjadi: “Cantik banget… tapi ini sebenarnya apa?” 🤔
Kalau kamu
pernah melihat barisan perempuan Bali berjalan rapi menuju pura sambil
menjunjung gebogan (susunan persembahan buah, jajan, bunga, dan janur)
di atas kepala—besar, tinggi, dan sangat estetis—besar kemungkinan itu adalah tradisi
mapeed (mepeed). Secara sederhana, mapeed berarti berjalan
beriringan dalam barisan, tidak saling mendahului, menuju tempat tertentu
(umumnya pura) sambil membawa persembahan.
Masalahnya:
banyak orang (termasuk warga lokal di luar Bali, pendatang, bahkan wisatawan
domestik) melihatnya seperti “parade budaya” biasa. Akibatnya, muncul
hal-hal yang kurang pas:
- memotret terlalu dekat
(mengganggu barisan),
- bercanda/berisik di area
sakral,
- mengira gebogan hanyalah
“hiasan cantik” (padahal bagian dari rangkaian upacara),
- ikut-ikutan tanpa tahu etika
busana dan sikap.
Padahal,
mapeed adalah praktik budaya-religius yang kuat: peserta (seringnya perempuan)
berjalan beriringan membawa gebogan sebagai wujud rasa syukur dan bhakti
dalam rangkaian upacara di pura.
Artikel ini
membantumu memahami makna, kapan/di mana biasanya terjadi, serta cara
menonton dan mendokumentasikan dengan benar—tanpa sok tahu, tanpa
mengganggu, dan tetap bisa menikmati keindahannya.
Solusi
langkah demi langkah: Memahami + Menghormati + (Kalau Perlu) Mendokumentasikan
Langkah
1 — Pahami istilah kuncinya: mapeed, banten, gebogan 🌿
Mapeed / Mepeed
- Bermakna berjalan beriringan
dalam barisan (di beberapa tempat juga disebut maleladan),
dilakukan dengan rapi menuju pura.
Banten
- Persembahan
(sarana upacara) dalam tradisi Hindu Bali. Banyak bentuknya—gebogan adalah
salah satu yang paling “visual”.
Gebogan (juga disebut pajegan di beberapa konteks)
- Persembahan
yang disusun bertingkat: buah-buahan, jajan, bunga, dihias janur; intinya
adalah susunan persembahan yang dikreasikan dan dibawa (seringnya
dijunjung).
- Di
beberapa penjelasan, gebogan terkait komposisi dan etika pembuatan
(misalnya penggunaan bahan-bahan yang disusun di atas dulang, dengan
struktur penopang).
- Banyak
sumber menekankan bahwa gebogan adalah bentuk ungkapan syukur dan bagian
dari upacara besar di pura/merajan.
Contoh real-life (situasi umum):
Kamu lewat jalan desa dan melihat rombongan perempuan berkebaya seragam
berjalan pelan, hening/tertib, menuju pura. Momen ini “fotogenik”, tapi
perlakukan seperti orang lewat di depan prosesi—bukan event panggung.
Langkah 2 — Ketahui konteksnya: biasanya terjadi saat
rangkaian upacara 🛕
Mapeed umumnya hadir sebagai bagian rangkaian kegiatan
upacara di pura (misalnya piodalan/odalan dan momen yadnya tertentu), di mana
warga membawa persembahan bersama-sama.
Karena tiap desa adat bisa punya detail berbeda (rute,
urutan barisan, jenis banten, pakaian), jangan menganggap “semuanya sama”.
Bahkan kamus BASAbali menyinggung bahwa pelaksanaan tiap daerah/desa bisa
berbeda.
Langkah 3 — Kalau kamu menonton: posisikan diri sebagai
“tamu yang sopan” 🙏
Gunakan prinsip ini: prosesinya didahulukan, dokumentasi
belakangan.
Yang sebaiknya dilakukan
- Berdiri
di sisi jalan, beri ruang untuk barisan lewat.
- Matikan
flash, kurangi suara shutter jika memungkinkan.
- Tunggu
momen barisan berhenti/longgar kalau ingin foto lebih dekat—jangan
memotong jalur.
- Ikuti
arahan pecalang/panitia jika ada.
Yang sebaiknya dihindari
- Berdiri
tepat di depan barisan untuk “blocking shot”.
- Mengajak
peserta berpose.
- Berisik,
merokok dekat prosesi, atau bercanda berlebihan di area pura.
- Menyentuh
gebogan, dulang, atau dekorasi janur.
Contoh real-life (situasi umum):
Kamu datang sebagai pendatang ke acara piodalan teman. Kamu lihat banyak orang
memegang HP, tapi tetap menjaga jarak dan tidak menghalangi jalan. Kamu ikut
cara mereka: ambil 1–2 video pendek, lalu simpan HP dan menikmati prosesi. Itu
biasanya paling aman.
Langkah 4 — Kalau kamu ingin memotret/rekam lebih serius:
pakai “aturan 3R” (Respect–Range–Ready) 📸
1) Respect (hormat dulu)
- Anggap
ini prosesi sakral, bukan “fashion show”, meski secara visual memang
indah.
2) Range (jarak aman)
- Gunakan
lensa/zoom agar tidak harus mendekat.
- Ambil
dari samping dengan komposisi diagonal barisan (lebih aman daripada
berdiri di depan).
3) Ready (siap cepat, tidak merepotkan)
- Setelan
sederhana: exposure stabil, tidak sering ganti-ganti posisi.
- Jangan
minta peserta mengulang langkah.
Tips komposisi yang “aman dan bagus”
- Frame
lebar untuk menunjukkan barisan dan pura (konteks).
- Detail
shot gebogan dari samping saat barisan melambat (tekstur buah, janur,
jajan).
- Potret
suasana: tangan yang menahan dulang, kain kebaya, ekspresi fokus—tanpa
mengganggu.
Langkah 5 — Kalau kamu diajak ikut (misalnya oleh
keluarga/teman): pastikan kamu paham batasan 🌺
Tidak semua prosesi cocok untuk “ikut-ikutan”. Kalau kamu
diajak, lakukan ini:
- Tanya:
apakah boleh ikut? (dan sebagai apa perannya)
- Ikuti
aturan busana yang ditentukan keluarga/banjar.
- Jangan
membawa barang yang mengganggu (tas besar, tripod besar, dll).
Beberapa sumber menggambarkan peserta mapeed mengenakan
kebaya khas Bali dengan warna serasi dan rapi, menambah kesan kompak dalam
barisan.
“Kesalahan umum” yang sering terjadi (dan cara
memperbaikinya) ⚠️
- Menganggap
mapeed = parade hiburan
✅ Perbaiki: perlakukan sebagai prosesi upacara. Fokusnya ibadah/ritual, bukan tontonan. - Memotong
barisan demi konten
✅ Perbaiki: ambil angle samping/zoom. Jangan berdiri di depan jalur prosesi. - Tidak
peka lokasi sakral
✅ Perbaiki: di area pura, ikuti aturan lokal. Jika ragu, ikuti warga setempat. - Salah
paham tentang gebogan
✅ Perbaiki: ingat gebogan adalah persembahan yang disusun, penuh makna dan etika pembuatan—bukan sekadar dekorasi. - Terlalu banyak “ngatur-ngatur”
✅ Perbaiki: jangan minta peserta pose, jangan memberi instruksi, jangan mengoreksi—kamu tamu.
Ringkasan singkat ✍️
- Mapeed adalah tradisi berjalan
beriringan (barisan tertib) membawa persembahan menuju pura, sebagai
bagian rangkaian upacara.
- Gebogan adalah bentuk persembahan yang
disusun bertingkat (buah, jajan, bunga, janur) di atas dulang, sering
dijunjung oleh perempuan dalam prosesi mapeed.
- Cara paling aman: hormat,
jaga jarak, jangan menghalangi, dokumentasikan seperlunya.
Kontrol
checklist (praktis, bisa kamu simpan) ✅
Checklist 1 — Etika menonton mapeed
- Berdiri di samping jalur, tidak
menghalangi barisan
- Tidak
memotong rute prosesi
- Tidak
flash / tidak teriak-teriak
- Tidak
menyentuh gebogan/banten
- Mengikuti arahan
pecalang/panitia bila ada
Checklist
2 — Checklist “foto/video aman”
- Pakai zoom/lensa lebih panjang
agar tidak perlu mendekat
- Ambil angle samping, bukan
menghadang depan
- Rekam singkat, lalu simpan HP
(tidak mengganggu)
- Hindari tripod besar/alat yang
bikin ramai
- Utamakan momen konteks (barisan
+ pura), bukan mengejar pose
Checklist
3 — Kalau diajak ikut oleh keluarga/teman
- Konfirmasi boleh ikut dan
peranmu apa
- Mengikuti aturan busana lokal
yang diminta
- Datang lebih awal, jangan bikin
orang menunggu
- Tidak membawa barang besar yang
merepotkan
- Bertanya sopan jika ragu (lebih
baik daripada salah)
Checklist 4 — Sensitivitas budaya (pendatang)
- Ingat: tiap desa adat bisa beda
aturannya
- Jika ragu, tiru perilaku warga
setempat
- Hormati ruang sakral (pura
& area sekitarnya)
















