Buleleng
(Bali Utara) sering disebut sebagai “surga air terjun” di Bali. Tapi
kalau kita melihat lebih dalam, air terjun di sini bukan sekadar spot cantik
untuk foto. Banyak di antaranya menyimpan sejarah yang “diam”: jejak era
kolonial yang muncul dalam cerita populer, perubahan cara tempat alam
“dipromosikan”, sampai perbedaan antara nama yang hidup di warga dan nama
yang dikenal wisatawan.
Di artikel ini, kita membahas beberapa air terjun yang
paling sering dikunjungi—Gitgit, Sekumpul (Pemuatan), Aling-Aling
(Sambangan), Munduk (Red Coral), dan Banyumala—dengan satu prinsip: tidak
mengarang data. Kalau suatu detail masih berupa versi populer dan belum
kuat arsipnya, kita sebut apa adanya.
Kenapa Air Terjun Buleleng Punya “Cerita” yang Berlapis?
Secara geografi, Bali Utara punya kawasan perbukitan dan
lembah sungai yang membentuk banyak titik jatuhan air. Tapi “lapisan sejarah”
muncul karena dua hal:
- Air
sebagai kebutuhan hidup desa
Jejak sejarah desa di Buleleng sering menempatkan air sebagai pusat kehidupan—air bukan dekorasi, melainkan sesuatu yang diatur, dialirkan, dan dipakai bersama. - Perjalanan
sebuah tempat dari “ruang lokal” menjadi “destinasi”
Ketika suatu lokasi mulai masuk cerita wisata, nama, akses, dan narasinya ikut berubah. Di sinilah “sejarah rahasia” sering muncul—bukan rahasia mistis, tapi rahasia sosial: siapa yang menyebut, siapa yang mempromosikan, dan bagaimana sebuah tempat dikenal.
1) Gitgit: Versi Populer 1939, tapi Bukti Awal Ketenaran Sudah Lebih Tua
Air Terjun Gitgit sering dikaitkan dengan era
kolonial, dan muncul istilah populer seperti “Ceburan Tuan” dalam narasi
wisata. Beberapa sumber wisata populer menyatakan Gitgit sudah dikenal sebagai
tempat rekreasi sejak masa kolonial, serta mengaitkannya dengan tahun 1939
dan nama Hooykaas (dikaitkan dengan Gedong Kirtya). Namun, untuk
menjadikan versi itu “pasti”, tetap dibutuhkan penelusuran arsip (dokumen
kolonial, catatan institusi, atau publikasi sezaman).
Yang lebih aman untuk disimpulkan: Gitgit sudah dikenal
sebagai objek yang “layak dilihat” pada periode awal abad ke-20—misalnya
melalui kartu pos era 1915–1930 yang secara eksplisit menyebut “The
famous Waterfall at Gitgit”. Bukti ini bukan “panduan wisata resmi”, tetapi
menunjukkan Gitgit sudah beredar dalam materi perjalanan/visual pada masa itu.
Intinya:
- 1939
+ Hooykaas = versi populer/sering diulang, masih perlu penguatan
arsip.
- 1915–1930-an
= ada bukti visual (kartu pos) bahwa Gitgit sudah dikenal luas.
2) Sekumpul: “Sekumpulan” Air Terjun—dan Nama Lokal “Pemuatan”
Sekumpul sering dianggap salah satu air terjun paling ikonik
di Bali Utara. Menariknya, ia juga contoh bagus soal dua identitas nama:
- Narasi
umum menyebut Sekumpul terdiri dari beberapa air terjun (sering disebut
tujuh aliran).
- Sumber
resmi daerah dan portal pariwisata provinsi menyebut warga
lokal juga mengenalnya sebagai Air Terjun Pemuatan (serta ada
penyebutan “Seven Point(s) Waterfall” dalam narasi wisata).
Di sinilah “sejarah rahasia” Sekumpul terasa nyata:
nama yang kuat di wisata (Sekumpul) tidak selalu menghapus sebutan lokal
(Pemuatan)—bahkan, teks pemerintah masih menuliskannya sebagai nama yang
hidup di masyarakat.
3) Sambangan & Aling-Aling: Air Terjun sebagai Sistem (Bukan Titik Tunggal)
Air Terjun Aling-Aling berada di Desa Sambangan,
Kecamatan Sukasada, Buleleng menurut informasi pemerintah daerah. (Catatan:
halaman Dispar tentang Sekumpul sudah kita pakai; untuk lokasi Aling-Aling,
rujukan lokasi Sambangan juga umum muncul pada kanal pemda, namun di hasil
pencarian kali ini yang paling kuat yang kita pegang adalah kerangka “desa-desa
Sukasada sebagai pusat air terjun” + rujukan akademik berikut.)
Yang sering tidak disadari wisatawan: Sambangan dikenal
memiliki lebih dari satu air terjun, sehingga pengelolaan wisata di sana
cenderung berbentuk jaringan (akses, tiket, guide, jalur trekking),
bukan hanya satu spot. Hal ini tercermin dalam riset akademik yang membahas
pengembangan wisata desa dan potensi daya tariknya.
Selain itu, ada lampiran penelitian (dokumen kampus) yang
menunjukkan adanya instrumen pengumpulan data seperti wawancara/pertanyaan—ini
mendukung bahwa topik pengelolaan/partisipasi lokal memang pernah diteliti
dengan metode lapangan.
“Rahasia” Sambangan/Aling-Aling:
Air terjun di sini lebih tepat dipahami sebagai aset desa yang dikelola,
bukan sekadar “background alam”.
4) Munduk: “Red Coral Waterfall” dan Cara Nama Membentuk Identitas
Dinas Pariwisata Buleleng menjelaskan bahwa Air Terjun
Munduk juga dikenal sebagai Red Coral Waterfall, dengan alasan
penamaan terkait keberadaan batu/karang berwarna kemerahan di sekitar area air
terjun.
Detik Bali juga menyebut Munduk/Red Coral (Tanah Barak) sebagai sebutan yang
dikenal untuk air terjun di Desa Munduk.
Ini contoh sederhana tentang bagaimana nama
menciptakan imajinasi tempat:
- “Munduk”
memberi konteks desa/daerah.
- “Red
Coral” memberi konteks visual yang mudah diingat.
5) Banyumala: Air Terjun Kembar di Wanagiri dan Narasi “Hidden Paradise”
Untuk Banyumala Twin Waterfalls, Dispar Buleleng
menyebut lokasinya di Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.
Yang menarik dari narasi Banyumala adalah bagaimana ia sering diposisikan
sebagai “sepotong surga” Bali Utara—sebuah identitas yang tumbuh kuat di era
wisata modern, seiring orang mencari destinasi yang terasa “lebih sejuk, lebih
hijau, lebih sunyi”.
Cara Menikmati “Sejarah Rahasia” Air Terjun dengan Hormat
🙏
Kalau kamu datang hanya untuk foto, kamu dapat foto. Tapi
kalau kamu datang sambil memahami konteks, pengalamanmu lebih dalam.
Prinsip sederhana:
- Hormati
jalur dan ruang desa.
Banyak akses melewati kebun warga atau jalur lokal—ikuti aturan setempat. - Bedakan
“cerita populer” dan “fakta yang terdokumentasi”.
Misalnya Gitgit: versi 1939 sering diulang, tetapi bukti visual ketenaran awal juga ada lewat materi kartu pos. - Jika
ada sistem tiket/guide lokal, lihat sebagai bagian dari pengelolaan.
Di desa-desa wisata, ini sering berkaitan dengan distribusi manfaat ekonomi dan perawatan jalur.
Kesalahan Umum Saat Mengejar Air Terjun di Buleleng 😅
- Mengira
semua air terjun “sama”—padahal tiap lokasi punya konteks desa dan cerita
nama berbeda (Sekumpul vs Pemuatan).
- Mengutip
tanggal/nama secara absolut padahal sumbernya versi populer (contoh 1939).
- Datang
dengan “viral mindset” lalu mengabaikan keamanan dan etika lokal.
Ringkasan
“Sejarah rahasia” air terjun Buleleng bukan teka-teki
mistis. Ia ada pada:
- narasi
populer kolonial & tahun yang sering diulang (Gitgit/1939), tapi
perlu kehati-hatian pembuktian arsip.
- bukti
awal ketenaran melalui materi perjalanan visual (kartu pos era
1915–1930).
- nama
lokal yang tetap hidup berdampingan dengan brand wisata (Sekumpul =
Pemuatan).
- peran
desa sebagai pusat pengelolaan dan jaringan destinasi (Sambangan/
Wanagiri/ Munduk).
Checklist Cepat Sebelum Berangkat ✅
- Tahu
lokasi desa/kecamatan (bukan cuma “nama viral”).
- Alas
kaki anti licin + baju ganti.
- Ikuti
jalur resmi & aturan lokal.
- Tidak
meninggalkan sampah.
- Tanya
warga/guide: “di sini dulu namanya apa?”—sering itu pintu masuk cerita
terbaik.





