Banyak dari
kita yang tinggal di Indonesia menjalani hari-hari seperti biasa: berangkat
kerja, macet, hujan sore, harga cabai naik-turun, deadline menumpuk. Tapi
ada satu hal yang sering luput: skala Indonesia itu “tidak wajar” untuk
sebuah negara kepulauan.
Kalau Anda tarik garis dari barat ke timur, wilayah
Indonesia membentang sekitar 5.120 km—hampir seperdelapan keliling bumi.
Dan “Indonesia” bukan sekadar gugusan pulau: menurut Badan Informasi Geospasial
(BIG), pada 2024 jumlah pulau Indonesia tercatat 17.380 pulau (dengan
dinamika verifikasi dan perubahan geografis).
Di peta dunia, kita memang tampak seperti titik-titik hijau
di antara Asia dan Australia. Tapi di realitas geopolitik dan ekonomi, posisi
ini berarti kita berada di jalur “nadi” yang menghubungkan Samudra Hindia
dan Pasifik—dengan selat-selat strategis seperti Malaka, Sunda, dan Lombok
yang menjadi bagian penting rute pelayaran internasional.
Intinya: Indonesia itu besar, penting, dan
kompleks—dan justru karena kompleks itulah, “jati diri” Indonesia selalu
bergerak, selalu diuji, dan selalu bisa dibentuk ulang.
1) Warisan Api: Berkah di Balik Bencana
Indonesia berdiri di atas Cincin Api Pasifik, kawasan
yang dikenal karena aktivitas tektonik dan vulkaniknya. Dan dari semua kisah
gunung api, Tambora 1815 adalah salah satu yang paling mengguncang
sejarah manusia.
Pada 1815, erupsi Tambora memuntahkan material dan aerosol
ke atmosfer dalam skala yang memengaruhi iklim global. Dampaknya sering
dikaitkan dengan anomali cuaca yang dikenal sebagai “Year Without a Summer”
(1816), yang memicu gagal panen di berbagai wilayah.
Yang menarik—dan terasa tragis sekaligus puitis—peristiwa
iklim ekstrem itu juga tercatat ikut mendorong lahirnya karya-karya budaya
populer, termasuk kisah yang kemudian menjadi ikon sastra gotik.
Namun “warisan api” Indonesia tidak hanya tentang bencana.
Di banyak wilayah, tanah vulkanik memberi kesuburan yang membuat
pertanian bisa sangat produktif (meski tentu hasil panen tetap dipengaruhi
irigasi, varietas, cuaca, dan kebijakan pangan). Dan dari sinilah lahir
paradoks Indonesia: kita hidup di atas risiko, tetapi juga di atas berkah.
2) Jawa: Pusat Gravitasi Manusia (dan Konsekuensinya)
Ada satu fakta yang membuat banyak orang terdiam: penduduk
Pulau Jawa sangat terkonsentrasi. Data kependudukan (Dukcapil) yang
dirangkum menunjukkan sekitar 154,34 juta penduduk berada di Pulau Jawa pada
Juni 2022—lebih dari separuh penduduk Indonesia.
Itu berarti Jawa bukan hanya “pulau”, melainkan mesin
sosial-ekonomi: pusat tenaga kerja, pasar konsumsi, industri, pendidikan,
budaya pop, dan mobilitas kelas menengah. Di sisi lain, kepadatan ini
menciptakan tekanan besar: harga tanah, kemacetan, polusi, kebutuhan air
bersih, sanitasi, perumahan terjangkau, dan ruang hidup yang layak.
Dan kepadatan manusia biasanya “mengundang” masalah lain: kota-kota
melebar, kawasan resapan berkurang, banjir makin kompleks. Indonesia tidak
kekurangan orang kreatif—kita kekurangan ruang dan sistem yang cukup
cepat mengejar laju perubahan.
3) Jakarta yang Turun Perlahan: Kota Besar di Atas Tanah
yang Rapuh
Jakarta adalah mesin ekonomi dan simbol modernitas—tetapi
juga contoh nyata bagaimana kota bisa “kalah” oleh kombinasi masalah
struktural.
Berbagai kajian menyebut penurunan muka tanah
(subsidence) di Jakarta terjadi terutama karena pengambilan air tanah
(ditambah faktor lain seperti beban bangunan dan kondisi geologi).
LPEM UI, misalnya, menyebut Jakarta mengalami penurunan tanah cepat pada
kisaran sekitar 2–15 cm per tahun.
Sementara angka “hingga ~25 cm per tahun” sering disebut untuk lokasi
tertentu (terutama area pesisir) dalam berbagai laporan dan pemberitaan.
Di level manusia, dampaknya bukan sekadar angka. Dampaknya
adalah: rob yang makin sering, permukiman yang makin rentan, jalan yang
makin rendah dibanding permukaan air, dan biaya infrastruktur yang “tidak ada
habisnya”.
Beberapa liputan juga menyoroti simbol-simbol yang menyentuh
emosi: bangunan ibadah di area pesisir yang terdampak kenaikan air/rob.
Misalnya, pemberitaan tentang Masjid Wal Adhuna di kawasan Muara Baru
yang dikelilingi/terendam air laut menjadi salah satu narasi publik tentang
rapuhnya pesisir Jakarta.
4) Mimpi Nusantara: Memutus “Jawa-sentris” (dan
Taruhannya)
Pemindahan ibu kota ke Nusantara (IKN) di Kalimantan
Timur bukan sekadar proyek infrastruktur—ini adalah proyek ideologi
pembangunan: mengubah pusat gravitasi Indonesia.
Narasi resminya konsisten: pemerataan ekonomi,
penduduk, dan pembangunan. Pemerintah menyebut pemindahan ibu kota sebagai
langkah mendorong pemerataan pembangunan lebih cepat dan mengurangi ketimpangan
yang terlalu terpusat.
Data ekonomi memperlihatkan bagaimana Jawa menjadi pusat
dominan. BPS pernah mencatat kontribusi Pulau Jawa terhadap PDB sekitar 58,75%
(2020).
Angka ini bisa berubah dari tahun ke tahun, tetapi pesan besarnya tetap sama: struktur
ekonomi Indonesia masih sangat terkonsentrasi.
Namun, taruhannya besar:
- Apakah
“pusat baru” benar-benar menumbuhkan kota yang manusiawi (bukan sekadar
proyek real-estate)?
- Apakah
pembangunan menjaga ekologi Kalimantan?
- Apakah
masyarakat lokal mendapat peran dan manfaat nyata?
Di sini, Indonesia sedang belajar satu hal penting: pembangunan
bukan hanya soal memindahkan gedung—tetapi memindahkan cara berpikir.
5) Sejarah Kelam dan Pelajaran tentang Kuasa
Sejarah Indonesia modern punya bab yang rumit dan
menyakitkan. Tahun 1965–1966 kerap dibicarakan dalam konteks kekerasan politik
dan tragedi kemanusiaan. Dalam diskursus global, istilah “The Jakarta
Method” populer melalui buku jurnalis Vincent Bevins (2020), yang membahas
bagaimana “Jakarta” menjadi semacam kode untuk kampanye antikomunis berdarah
yang kemudian menjadi rujukan di beberapa tempat lain.
Bagian penting dari pelajaran sejarah ini: ketika konflik
politik dan kekerasan terjadi, sering kali yang ikut terdampak adalah kedaulatan
ekonomi dan tata kelola sumber daya.
Contoh yang sering disebut adalah Tambang Grasberg di
Papua, yang dikenal sebagai tambang emas terbesar di dunia (dan
salah satu tambang tembaga besar).
Narasi publik mengenai siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana—terus menjadi
perdebatan yang mengajarkan satu hal: sumber daya alam tanpa tata kelola
yang adil akan selalu menimbulkan luka sosial.
6) Bhinneka Tunggal Ika: Keajaiban yang Terus Diuji
Indonesia sering disebut sebagai “laboratorium sosial”
karena keragamannya. Kementerian dan lembaga terkait mencatat ratusan bahasa
daerah; salah satu angka yang sering dirujuk adalah 718 bahasa daerah
yang telah diidentifikasi/divalidasi dalam pemetaan.
Keragaman ini bukan pajangan—ini adalah kerja harian:
kompromi, toleransi, adaptasi, dan kadang ketegangan.
Di Jakarta, simbol toleransi yang sering dikutip adalah
kedekatan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Bahkan dalam praktik
sehari-hari, ada momen ketika area sekitar Katedral dipakai sebagai kantong
parkir saat kegiatan besar di Istiqlal—sebuah contoh toleransi yang diberitakan
luas.
Tapi kita juga punya tantangan budaya yang keras kepala.
Salah satunya: rokok. Data kesehatan menunjukkan prevalensi merokok
pada remaja masih menjadi perhatian serius, termasuk pada usia sekolah
13–15 tahun.
Keragaman Indonesia adalah kekuatan. Namun kekuatan ini
hanya akan bertahan jika disertai:
- pendidikan
yang kuat,
- keadilan
ekonomi,
- dan
kesehatan publik yang tidak disepelekan.
7) Masa Depan: Dari “Bahan Mentah” ke “Nilai Tambah”
Indonesia berkali-kali mencoba melompat ke industri bernilai
tinggi. Kita punya sejarah mimpi teknologi, termasuk proyek-proyek industri
strategis di masa lalu. Semangat utamanya jelas: jangan selamanya menjadi
pengekspor bahan mentah.
Karena pada akhirnya:
- batu
bara akan menghadapi transisi energi,
- komoditas
bisa jatuh karena siklus pasar,
- dan
sumber daya alam selalu terbatas.
Maka kartu truf paling tahan lama adalah: kualitas
manusia.
Kalau Indonesia ingin benar-benar “berdiri tegak”, maka
fokusnya akan bergeser dari:
“kita punya apa di tanah”
menjadi
“kita bisa apa dengan pikiran.”
Dan itu berarti investasi pada:
- pendidikan
vokasi yang relevan,
- riset
dan inovasi,
- literasi
finansial,
- dan
tata kelola yang bersih.
Penutup: Menjadi Bagian dari Solusi 🇮🇩
Indonesia bukan sekadar tempat tinggal. Indonesia adalah
proyek besar yang belum selesai—dan justru itulah keindahannya.
Kita hidup di negeri yang:
- besar
secara geografi,
- strategis
secara maritim,
- kaya
dan berisiko karena cincin api,
- padat
dan dinamis di Jawa,
- sedang
mencari bentuk baru lewat Nusantara,
- dan
terus diuji oleh tantangan kesehatan serta sosial.
Kalau ada satu kalimat yang pantas dibawa pulang dari
artikel ini:
masa depan Indonesia bukan hanya soal sumber daya—tetapi soal pengetahuan,
karakter, dan keberanian membangun sistem. ✨







