Masalahnya: MSG itu “bahaya” atau cuma salah paham? 🤔
Di Indonesia, MSG sering jadi kambing hitam: “Kalau
pusing, pasti karena micin.” Atau sebaliknya: “Tanpa micin hambar!”
Masalahnya, pembicaraan tentang MSG sering campur aduk antara mitos, pengalaman
pribadi, dan sains.
Agar lebih jernih, kita bedakan 3 hal:
- MSG
(monosodium glutamate) = bentuk garam dari glutamat + natrium.
- Glutamat
= asam amino yang alami ada di banyak makanan.
- Rasa
umami = sensasi “gurih-nendang” yang bisa muncul dari glutamat.
Yang menarik: glutamat itu bukan “zat asing”—glutamat
bebas adalah salah satu asam amino bebas yang paling melimpah di ASI.
Jadi, topik MSG bukan soal “alami vs kimia”, tapi soal konteks, dosis, dan
pola makan.
Langkah demi langkah: pahami MSG dengan cara yang lebih
waras ✅
Langkah 1 — Kenali: MSG ≠ “micin jahat”, ini soal glutamat + umami
Glutamat secara alami ada di makanan yang kita anggap “enak
gurih”, misalnya:
- Tomat
matang 🍅
- Jamur
🍄
- Keju
tua 🧀
- Rumput
laut
- Kaldu
daging/ikan yang dimasak lama
MSG hanyalah cara praktis untuk menambah sumber
glutamat (umami) tanpa harus selalu pakai bahan-bahan itu.
Mini latihan rasa (di rumah):
- Cicipi
tomat matang (lebih umami).
- Bandingkan
dengan tomat yang masih agak mentah (lebih asam, umami lebih rendah).
Ini membantu kamu “merasakan” konsep umami tanpa debat dulu soal MSG.
Langkah 2 — Pahami fakta yang sering bikin orang kaget:
glutamat ada di ASI 🍼
Banyak orang mengira “glutamat” itu identik dengan MSG
buatan pabrik. Padahal, glutamat adalah bagian dari biologi dan makanan kita.
Studi tentang komponen asam amino bebas dalam ASI menunjukkan glutamat termasuk
yang paling melimpah.
Maknanya apa?
Bukan berarti bayi “makan MSG”, ya. Artinya: tubuh manusia memang familiar
dengan glutamat—dan kata “glutamat” tidak otomatis berarti berbahaya.
Catatan penting:
Yang sering bikin “kaget” justru karena kita terbiasa membagi makanan jadi:
- “alami”
= aman
- “kimia”
= bahaya
Padahal semua makanan itu kimia, dan yang menentukan efeknya adalah kadar, bentuk, dan konteks.
Langkah 3 — “Chinese restaurant syndrome”: kenapa mitos
ini bertahan lama? 🥢
Ada istilah populer tentang gejala setelah makan makanan
tertentu (misalnya pusing, muka panas, jantung berdebar) yang sering dituduhkan
ke MSG. Namun, FDA menyatakan MSG termasuk “generally recognized as safe
(GRAS)” dan mencatat bahwa dalam studi, reaksi pada orang yang mengaku
sensitif tidak bisa dipicu secara konsisten.
Terus kenapa ada yang merasa “kena MSG”?
Karena pengalaman nyata bisa dipengaruhi banyak faktor:
- Makanan
tinggi garam + tinggi lemak
- Porsi
besar
- Kurang
tidur, stres, dehidrasi
- Alkohol
/ kopi berlebihan
- Sugesti
(expectation effect)
- Bahan
lain (mis. histamin pada makanan tertentu)
Kesimpulan realistis:
- Untuk
kebanyakan orang, MSG aman dalam konteks konsumsi normal.
- Tapi
sebagian orang bisa merasa tidak nyaman pada kondisi tertentu. Pengalaman
itu valid—hanya penyebabnya tidak selalu MSG “sendirian”.
Langkah 4 — MSG vs garam: ini bagian yang sering salah
kaprah 🧂
MSG mengandung natrium, tapi intinya MSG dipakai untuk menguatkan
rasa sehingga kadang membantu masakan tetap enak dengan garam yang
lebih sedikit (tergantung resep dan cara masak). Ini bukan “izin makan
ultra-proses terus”, tapi bisa jadi trik dapur untuk yang sedang mencoba
mengurangi rasa asin berlebih.
Praktik yang bisa dicoba (tanpa ekstrem):
- Kalau
biasanya kamu pakai 1 sendok garam, coba:
- kurangi
sedikit garam,
- tambah
unsur umami dari bahan alami (tomat matang, jamur, terasi
secukupnya, kaldu rumahan),
- dan
bila kamu memakai MSG, gunakan seperlunya untuk “mengunci” gurih.
Fokusnya bukan “micin vs anti-micin”, tapi masakan enak dengan komposisi yang lebih seimbang.
Langkah 5 — Cara membaca label: “MSG” tidak selalu
tertulis jelas 🏷️
Di produk kemasan, sumber umami bisa datang dari berbagai
istilah. Yang penting dipahami:
- “MSG”
adalah salah satu bentuk penambah rasa.
- “Glutamat”
juga bisa berasal dari bahan tertentu (misalnya ekstrak ragi/yeast
extract, protein terhidrolisis).
Bukan berarti semuanya buruk—tapi kalau tujuanmu makan lebih “bersih”, cara paling efektif biasanya kurangi ultra-proses, bukan berburu satu kata di label.
Checklist cepat saat belanja:
- ✅
Prioritaskan bahan sederhana (lebih pendek daftar komposisi)
- ✅
Perhatikan total garam/natrium (kalau tercantum)
- ✅
Jangan menilai “sehat” hanya dari ada/tidaknya MSG
- ✅
Ingat: seringnya masalah ada di overall diet, bukan 1 aditif
Kesalahan yang sering terjadi (dan bikin debat MSG nggak
selesai) ⚠️
- Menganggap
“alami = selalu aman” dan “kimia = selalu bahaya”
Padahal, banyak zat “alami” juga bisa bermasalah kalau berlebihan. - Menyalahkan
MSG untuk semua gejala setelah makan
Padahal konteks makanan, porsi, dan kondisi tubuh sangat berpengaruh. FDA juga menekankan reaksi tidak konsisten pada studi. - Mengabaikan
pola makan total
Kalau pola makan dominan ultra-proses, masalahnya bukan 1 bahan. - Terlalu
ekstrem: anti total atau pakai berlebihan
Pendekatan yang paling masuk akal biasanya “secukupnya”. - Lupa
bahwa umami bisa didapat dari banyak sumber
Tomat matang, jamur, kaldu rumahan, ikan, udang, rumput laut—bukan cuma MSG.
Ringkasan + kontrol checklist ✅🧾
Ringkasan singkat
- Glutamat
adalah komponen yang alami di banyak makanan, dan glutamat bebas
termasuk yang melimpah di ASI.
- MSG
dinilai GRAS oleh FDA, dan reaksi sensitif tidak konsisten dalam
studi.
- Debat
MSG sering bias karena konteks makanan ultra-proses, porsi besar, dan
faktor gaya hidup.
Checklist praktis (tempel di note kamu)
- Aku
fokus pada pola makan total, bukan 1 kata “MSG”
- Aku
pakai sumber umami: tomat matang/jamur/kaldu rumahan (dan MSG kalau mau, secukupnya)
- Aku
cek garam/natrium kalau tersedia, bukan cuma cek “tanpa MSG”
- Kalau
aku merasa sensitif, aku catat: makanan apa, porsi, jam tidur, stres,
minum air—bukan langsung menyimpulkan
- Aku
tetap pilih makanan segar lebih sering dibanding ultra-proses




