Masalah yang sering terjadi
Di Indonesia, praktik seperti ruqyah, bekam
(hijama), konsumsi madu dan habbatussauda (Nigella sativa)
sering dipandang dengan dua ekstrem:
- Ada
yang menolaknya sebagai “kuno” 🙅♂️
- Ada
yang meyakininya sebagai “obat untuk semua” ✅✅✅
Padahal, kalau kita lihat dengan kacamata sains, banyak
praktik tradisional bekerja bukan karena mistis, tetapi karena kombinasi
mekanisme tubuh (saraf, hormon stres, inflamasi, nyeri) + makna/ritual
(ketenangan, fokus, harapan, dukungan sosial). Namun kualitas bukti ilmiah
tidak selalu sama: ada yang lumayan kuat, ada yang masih terbatas.
Catatan aman dulu (penting): tulisan ini bukan
pengganti diagnosis/terapi medis. Anggap ini sebagai cara memahami “apa yang
mungkin masuk akal”, dan bagaimana mempraktikkannya dengan aman sebagai pendamping—bukan
pengganti—pengobatan dokter.
🧩 Solusi langkah demi langkah: cara “membaca” praktik penyembuhan Islam dengan sains
Langkah 1 — Pisahkan 3 lapis manfaat: spiritual, psikologis, dan fisik
Biar tidak bingung, pakai kerangka sederhana ini:
- Spiritual
(makna & ibadah): niat, doa, tawakkal, ketenangan hati.
- Psikologis
(regulasi stres): fokus, repetisi, rasa aman, relaksasi → memengaruhi
sistem saraf otonom.
- Fisik
(intervensi tubuh): misalnya bekam untuk nyeri tertentu, madu untuk
perawatan luka tertentu, puasa untuk parameter metabolik tertentu.
Kerangka ini membantu kita tidak overclaim dan tidak
meremehkan.
Langkah 2 — Ruqyah & bacaan Al-Qur’an: “terapi suara + fokus + makna”
Banyak bentuk ruqyah melibatkan mendengar/membaca ayat,
doa, dan ketenangan. Dari sisi psikofisiologi, ini mirip gabungan:
- audio
yang menenangkan,
- repetisi
(ritme stabil),
- atensi
terarah (mirip meditasi),
- makna
religius (rasa aman/harapan).
Sejumlah studi dan tinjauan ilmiah melaporkan bahwa mendengar
atau membaca Al-Qur’an dapat membantu menurunkan kecemasan, stres, dan
gejala depresi sebagai pendekatan nonfarmakologis pendamping.
Selain itu, praktik shalat (namaz) juga diteliti terkait perubahan indikator
stres seperti kortisol dan penanda biologis terkait stres.
Bagaimana mempraktikkan dengan pendekatan “aman &
masuk akal” (10 menit):
- Wudhu
(bukan “harus”, tapi membantu transisi mental)
- Duduk
nyaman, bahu rileks
- Napas
pelan (mis. 4 detik tarik, 6 detik hembus)
- Baca/dengarkan
ayat dengan volume nyaman
- Setelah
selesai: 1 menit “check-in” tubuh (tegang di mana?), lalu doa singkat
Kenapa napas pelan membantu? Karena slow breathing terbukti
dapat meningkatkan regulasi sistem saraf (HRV/vagal tone) dan menurunkan stres
pada banyak konteks.
Contoh situasi yang sering terjadi:
Seorang mahasiswa di Surabaya lagi skripsi, tidur kacau, sering panik. Ia tetap
konsultasi bila perlu, tapi menambah rutinitas 10 menit (napas pelan + tilawah
singkat sebelum tidur). Biasanya yang terasa duluan bukan “hilang total”,
melainkan lebih cepat tenang dan lebih mudah tidur—itu target
realistis.
Langkah 3 — Bekam (cupping/hijama): paling sering “nyambung” untuk nyeri, tapi kualitas bukti bervariasi
Untuk nyeri muskuloskeletal (punggung bawah, leher,
osteoartritis lutut, nyeri kronis), beberapa tinjauan ilmiah menunjukkan bekam
dapat membantu mengurangi nyeri, namun kualitas bukti sering berada pada
rentang rendah sampai moderat tergantung kondisi dan desain studi.
Cara aman mempraktikkan (praktis):
- Pilih
terapis yang punya pelatihan jelas (lebih ideal jika tenaga
kesehatan atau di bawah supervisi)
- Pastikan
alat steril (terutama untuk bekam basah)
- Anggap
sebagai pendamping: latihan, fisioterapi, tidur, dan manajemen
beban tetap utama
- Hindari
jika punya gangguan pembekuan darah atau sedang konsumsi obat pengencer
darah (konsultasi dulu)
Contoh situasi:
Pegawai kantor di Jakarta sering pegal leher karena laptop. Ia coba bekam sekali-sekali
+ perbaiki ergonomi + stretching. Yang bekerja biasanya kombinasi, bukan bekam
doang.
Langkah 4 — Madu: bukti cukup kuat untuk perawatan luka tertentu (dengan cara yang tepat)
Di literatur medis modern, madu (terutama medical-grade
honey) sering dibahas sebagai dressing untuk luka tertentu. Tinjauan ilmiah
menunjukkan madu dapat membantu proses penyembuhan luka, termasuk aspek seperti
kontrol mikroba dan percepatan fase penyembuhan pada konteks tertentu.
Ada juga uji acak terkontrol pada konteks penyakit tertentu yang mengevaluasi
penggunaan madu pada penyembuhan luka.
Yang sering salah di lapangan: langsung oles “madu
dapur” ke luka dalam/infeksi berat.
Kalau konteksnya medis, idealnya gunakan produk yang memang untuk wound care
dan ikuti arahan tenaga kesehatan.
Langkah 5 — Habbatussauda (Nigella sativa): menjanjikan, tapi jangan diposisikan sebagai “obat tunggal”
Nigella sativa ditinjau dalam banyak publikasi
ilmiah—termasuk ulasan uji klinis—untuk berbagai outcome kesehatan.
Beberapa meta-analisis juga membahas efeknya pada faktor risiko kardiometabolik
seperti tekanan darah, walau hasil dan besaran efek bisa bervariasi antar
studi.
Prinsip aman:
- Jangan
“mengganti” obat yang diresepkan dokter tanpa diskusi
- Perhatikan
potensi interaksi (mis. pada kondisi kronis tertentu)
- Fokus
pada tujuan realistis: pendamping gaya hidup sehat, bukan klaim
“menyembuhkan semua penyakit”
Langkah 6 — Puasa (termasuk Ramadan): efek metabolik ada, namun konteks menentukan
Ramadan diurnal intermittent fasting pada orang sehat
dilaporkan berhubungan dengan perbaikan kecil pada beberapa komponen
sindrom metabolik pada sebagian studi, meski hasil bisa berbeda tergantung pola
tidur, aktivitas, dan makanan.
Artinya: puasa bisa menjadi “momen reset”, tapi bukan otomatis sehat kalau
sahur-berbuka tidak teratur atau kurang tidur.
❌ Kesalahan umum yang bikin praktik “tradisional” jadi tidak efektif (atau malah berbahaya)
- Mengganti
terapi medis untuk kondisi serius tanpa evaluasi dokter.
- Mencari
“klaim instan”: berharap satu sesi bekam/ruqyah = sembuh total.
- Ritual tanpa regulasi hidup: tidur berantakan, makan
kacau, stres tinggi—lalu kecewa karena “tidak mempan”.
- Bekam tanpa higienitas atau dilakukan oleh orang
tanpa standar.
- Madu sembarangan untuk luka yang seharusnya butuh
penanganan klinis.
- Menyalahkan
diri (“iman kurang”) ketika gejala tidak membaik—padahal kesehatan
juga soal biologi dan akses layanan.
Kita juga perlu paham: ritual & harapan memang
bisa memberi pereda gejala (mis. nyeri, cemas) lewat mekanisme
konteks/psikobiologis, tapi itu bukan berarti penyakit organik selalu “hilang”.
Ringkasan
Praktik penyembuhan Islam tradisional sering punya
“jembatan” ke sains:
- Tilawah/ruqyah,
shalat, dzikir → regulasi stres & ketenangan (bukti
nonfarmakologis pendamping)
- Bekam
→ potensi membantu nyeri tertentu, bukti bervariasi, lakukan dengan
standar aman
- Madu
→ cukup kuat di ranah wound care tertentu bila dilakukan benar
- Habbatussauda
→ menjanjikan untuk beberapa outcome, tapi tetap perlu sikap realistis
- Puasa
Ramadan → bisa terkait perubahan metabolik pada sebagian orang sehat,
tergantung konteks hidup
✅ Checklist praktis (yang bisa langsung dipakai)
Checklist 1 — “Ruqyah untuk regulasi stres” (10 menit)
- Niat
menenangkan diri, bukan mencari sensasi
- Napas
pelan 2–3 menit
- Tilawah/dengarkan
ayat dengan fokus
- Evaluasi:
apakah tubuh lebih rileks? tidur lebih mudah?
- Jika
panik berat/berkepanjangan: cari bantuan profesional
Checklist 2 — “Bekam aman”
- Terapis
punya pelatihan/izin yang jelas
- Alat
steril, ruang bersih, sarung tangan
- Tujuan
realistis: bantu nyeri, bukan klaim “menyembuhkan semua”
- Hindari
jika ada risiko perdarahan/obat pengencer darah (konsultasi dulu)
Checklist 3 — “Madu & herbal: aman + realistis”
- Untuk
luka: pahami konteks medis (idealnya medical-grade)
- Jangan
hentikan obat resep tanpa diskusi
- Catat
efek dan reaksi tubuh (mis. alergi, iritasi)








