Masalahnya: Kenapa To-Do List Selalu Panjang Tapi Hari Terasa “Hilang”?
Banyak orang di Indonesia sudah rajin bikin to-do list, tapi tetap kewalahan. Bukan karena kamu “malas”, melainkan karena to-do list tidak memberi tempat (waktu) untuk dikerjakan. Akhirnya kita:
-
loncat-loncat tugas (multitasking) 🤹♂️
-
kebanyakan “kerjaan kecil” (chat, balas email, scroll)
-
kerja besar (yang butuh fokus) selalu ketunda
-
pulang kerja/selesai hari… tapi rasanya nggak ada yang benar-benar selesai
Time blocking membantu karena kamu mengubah daftar tugas menjadi jadwal nyata. Bukan berarti hidup harus kaku; justru tujuannya supaya lebih tenang dan terarah.
Solusi Step-by-Step: Cara Time Blocking yang Ramah Pemula ✅
1) Mulai dari “jangkar” harian dulu (anchor)
Sebelum menyusun blok kerja, tentukan hal yang relatif tetap:
-
jam bangun & tidur
-
jam makan
-
perjalanan/commute
-
kuliah/sekolah
-
urusan rumah (masak, antar-jemput)
-
waktu ibadah (misalnya jika kamu shalat)
-
waktu keluarga/istirahat
Prinsip: jadwal yang realistis dimulai dari realita, bukan dari ideal versi motivasi.
2) Tentukan ukuran blok yang masuk akal
Pemula sering gagal karena bloknya terlalu besar atau terlalu kecil.
Rekomendasi aman untuk pemula:
-
30–60 menit untuk tugas fokus ringan–sedang
-
60–90 menit untuk tugas fokus berat (menulis, desain, belajar serius)
-
15–30 menit untuk admin (chat, email, bayar tagihan, rapihin file)
Kalau kamu gampang terdistraksi, mulai dari 30 menit fokus + 10 menit jeda.
3) Buat 3 “blok wajib” (bukan 20 target)
Time blocking bukan ajang pamer produktif. Pilih 3 blok inti yang paling penting hari itu:
-
Blok Fokus Utama (progress kerja/belajar paling berdampak)
-
Blok Admin & Komunikasi (chat, email, koordinasi)
-
Blok Rumah & Hidup (beres-beres, masak, olahraga ringan, keluarga)
Kalau 3 blok ini kejaga, hari kamu sudah “menang”.
4) Sisipkan “buffer” di antara blok (ini yang bikin jadwal realistis)
Kesalahan umum: jadwal rapat-rapat tanpa napas. Padahal hidup itu ada:
-
perpindahan tempat
-
cari file
-
antri makanan
-
telat sedikit
-
otak butuh transisi
Tambahkan:
-
10–15 menit buffer di antara blok penting
-
1 blok cadangan (catch-up) 30–60 menit
Buffer bukan “waktu kosong”. Buffer itu pengaman supaya kamu tidak gagal total saat ada gangguan.
5) Lindungi blok fokus dengan aturan sederhana
Untuk pemula, cukup 3 aturan:
-
Notifikasi dimatikan saat blok fokus (atau minimal mode senyap) 🔕
-
Satu blok = satu jenis kerja (jangan campur menulis + chat)
-
Kalau ada ide/tugas baru muncul: catat di “parkir tugas”, lanjut fokus
6) Review 5 menit di akhir hari (biar besok lebih mudah)
Di akhir hari, tanya singkat:
-
blok mana yang kejaga?
-
apa yang paling mengganggu?
-
blok mana yang harus dipindah? (pindah, bukan hilang)
-
apa 1 hal yang harus jadi prioritas besok?
Kebiasaan review kecil ini yang bikin time blocking makin “pas” dengan hidupmu.
Contoh Jadwal Harian Time Blocking yang Realistis (Pemula)
Di bawah ini contoh template, bukan aturan saklek. Kamu boleh geser sesuai jam kerja/kuliah dan kebiasaanmu.
Contoh A — Pekerja kantoran (9–5) + commute
06:30–07:30 Bangun, mandi, sarapan ringan
07:30–08:30 Perjalanan / persiapan berangkat
09:00–10:30 Blok Fokus 1 (kerjaan paling penting)
10:30–10:45 Buffer + minum
10:45–12:00 Meeting/kolaborasi / tugas tim
12:00–13:00 Makan siang + jalan sebentar
13:00–14:00 Blok Admin (email, chat, follow up)
14:00–15:30 Blok Fokus 2 (lanjutan kerja inti)
15:30–16:00 Buffer + rapihin catatan
16:00–17:00 Tugas ringan / persiapan besok
17:00–18:30 Pulang / transisi
19:00–20:00 Makan + waktu keluarga
20:00–20:30 Rumah ringan (beres 15–30 menit)
20:30–21:30 Me time / belajar ringan
21:30–22:00 Review singkat + siap tidur
Kenapa ini realistis? Karena ada buffer, admin dipisah, dan malam tidak dipaksa jadi “jam produktif kedua”.
Contoh B — Freelancer / WFH (lebih fleksibel, tapi mudah “kebablasan”)
07:00–08:00 Pagi santai + sarapan
08:00–09:00 Rumah & persiapan (rapih meja, rencana hari ini)
09:00–10:30 Blok Fokus Utama (project paling sulit)
10:30–11:00 Break + gerak
11:00–12:00 Komunikasi (client, revisi ringan)
12:00–13:00 Makan siang
13:00–14:30 Blok Fokus 2 (produksi)
14:30–15:00 Buffer (catch-up)
15:00–16:00 Admin (invoice, file, posting, email)
16:00–17:30 Olahraga / urusan rumah / errands
19:30–20:00 Review + rencana besok
Tips WFH: “jam fleksibel” butuh batas. Kalau tidak, kerja bisa merembet sampai malam tanpa hasil jelas.
Kesalahan Umum Time Blocking (yang Bikin Banyak Orang Menyerah) ❌
-
Jadwal terlalu padat tanpa buffer → sekali telat, semuanya runtuh.
-
Semua tugas dianggap prioritas → jadinya tidak ada yang selesai.
-
Blok fokus dicampur dengan komunikasi → fokus pecah terus.
-
Mengabaikan transisi (makan, mandi, perjalanan, istirahat) → jadwal fantasi.
-
Tidak punya blok admin khusus → chat/email nyerang seharian.
-
Kalau meleset sedikit, langsung “ah, gagal” → padahal cukup geser blok, bukan membatalkan sistem.
📌 [PROMPT GAMBAR #6 disisipkan di sini]
Ringkasan: Cara Mulai Time Blocking Tanpa Drama 🧩
-
Mulai dari anchor (realita harian).
-
Pakai blok 30–60 menit dulu.
-
Tetapkan 3 blok wajib (fokus, admin, hidup).
-
Sisipkan buffer.
-
Review 5 menit tiap malam.
Checklist Cepat (copy-paste)
-
Saya sudah tentukan jam bangun/tidur + makan
-
Saya punya 1–2 blok fokus utama
-
Saya punya 1 blok admin & komunikasi
-
Ada buffer 10–15 menit di antara blok penting
-
Ada 1 blok catch-up (cadangan)
-
Saya review 5 menit sebelum tidur







